Secuil Catatan Untuk Rakyat Miskin Kota: Salemba Bluntas
Lama dilupakan dalam pembangunan, dipanggang
api pertikaian dan perseteruan.
Setiap kita bisa mengambil pelajaran,
pembangunan membutuhkan kedamaian dan keadilan.
(Najwa Shihab)
Di daerah Bluntas, terdapat kawasan pinggir kali yang
rata-rata penduduknya ialah penduduk kurang mampu. Kebanyakan dari mereka ialah
orang desa yang cita-citanya menjadi kaya di Jakarta, tetapi malah bekerja
kasar sebagai pemungut sampah/ pemulung, pekerja kasar, atau asisten rumah
tangga. Sepereempatnya merupakan penduduk lanjut usia (bukan usia produktif),
pengangguran, dan/ atau terpaksa bekerja meski sudah renta. Ada dari mereka
yang membuka warung kecil, warteg kecil, usaha makanan dengan harga rendah, dan
lain sebagainya. Sebagiannya lagi, terpaksa tinggal berdampingan dengan sekian
gerobak sampah.
Akses air memang bisa langsung didapatkan dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), tetapi ada juga yang masih memanfaatkan sumur.
Sementara sumur mau tidak mau mesti bercampur dengan air sungai yang sudah
tidak layak pakai dan sampah. Bagaimana upaya untuk keluarga pinggir kali di
Bluntas tersebut?
Sekilas jika kita melihat senyum mereka memang seakan
baik-baik saja. Mereka hidup rukun, damai, dan tercukupi. Tetapi jika diberikan
pilihan, misal ingin tempat tinggal layak di Jakarta atau tetap a quo. Tentu
mereka lebih memilih opsi pertama, ‘papan’ yang nyaman untuk ditempati. Namun
apakah dengan pembangunan? Hemat penulis tidak. Pembangunan mengharuskan mereka
pergi, digusur, dikasih kompensasi yang tidak sebanding, dan lain sebagainya. Meski
urban, tempat tinggal mereka sudah menjadi bagian dari mereka. Pembangunan,
misal membuat rusun yang nyaman, tidak serta merta dapat dilakukan.
Hal yang perlu diperhatikan adalah kesempatan
berwirausaha, antara lain sosialisasi pemerintah (minimal dari pihak RT) kepada
warganya untuk membuka wirausaha kecil-kecilan, mengadakan pasar malam di
daerah pinggir kali Bluntas, membuat food court, memberikan fasilitas,
hingga program menyuntikkan modal misalnya. Progam-program yang memberdayakan
minimal akan mampu menambah pendapatan keluarga miskin yang tinggal di pinggir
kali Bluntas.
Sebetulnya hal yang membuat saya miris ialah kesenjangan.
Orang miskin berdampingan dengan juragan kosan, bukan merupakan pemandangan
asing di Bluntas. Tidak hanya Bluntas, tapi di banyak daerah di kota. Ironinya
banyak yang menjadi buruh kasar di tempat juragan kosan tersebut. Seperti Ibu
Siti (60 tahun), ia bekerja tahunan di Kosan H. Halim, dengan gaji yang tidak
cukup untuk biaya keluarga dan paling utama untuk cucunya. Bahkan seringkali
Ibu Siti menunggu pemberian anak-anak kosan untuk tambahan makan misalnya. Tetapi
pada akhirnya, Ibu Siti bekerja ganda di tempat lain untuk biaya pengeluaran
per bulan yang tinggi di Jakarta.
Tingkat
urbanisasi yang tinggi memberikan beban tersendiri untuk kita semua. Rakyat
yang tidak mampu bersaing di tengah ketatnya kompetisi kota, akan terpinggirkan
dan menumpuk menjadi warga miskin kota.


Komentar
Posting Komentar